A GAME CHANGER: APLIKASI RESEP MASAKAN YUMMY APP

Judul diatas bener-bener menggambarkan perasaanku ketika memasak saat ini. Yummy App adalah aplikasi resep masakan yang menjadi #GameChanger buat perjalanan masakku.

Penasaran mengapa Yummy App bisa menjadi #GameChanger buatku? ikutin terus ya ceritaku di tulisan ini.

Ketika Masak Menjadi Tantangan Baru

Tidak terasa, sudah dari Bulan Maret kita berada di masa pandemi seperti ini. Masa pandemi secara keseluruhan mengubah prioritas hidup kita. Termasuk prioritasku. Dulu sebelum adanya pandemi, prioritasku lebih kepada aktivitas apa yang mau dikerjakan supaya bisa terus produktif kesana dan kemari. Namun, sekarang aku lebih menaruh prioritas perhatianku pada kebersihan dan kesehatan diri. Salah satu aspek yang paling berubah sejak masa pandemi ialah urusan perut alias makanan hahaha. Dulu waktu belum ada pandemi yang penting perut kenyang dan harga pas di kantong. Nah sekarang, fokusku lebih kepada kebersihan dari makanan yang kita makan. Cara paling aman adalah memasak sendiri di rumah. Apalagi bagi aku yang tinggal bersama Nenek dan Ibuku yang sudah memasuki usia lanjut. Mau tidak mau aku harus lebih aktif dan produktif untuk menyediakan kebutuhan makanan untuk mereka. Nenek dan Ibu tidak boleh telat makan hanya karena aku tidak bisa masak kan?

Yang menjadi tantangan itu ketika aku harus membagi waktu memasak dan juga menyelesaikan tugas kuliah. Ditambah lagi kemampuan memasakku benar-benar di bawah rata-rata. Setiap masak selalu hambar, antara takaran bumbu tidak pas atau proses memasakku yang kurang tepat. Aku selalu merasa kalau masak harus buru-buru, karena aku masih punya banyak kerjaan yang mengantre untuk dikerjakan. Kadang juga keinginanku untuk masak terlalu muluk-muluk jadi aku masih kesulitan untuk mengestimasi waktu memasakku. Kadang kalau waktu sudah mepet, masakannya suka belum mateng atau malah rasanya amburadul. Huft, sedihnya. Oleh sebab itu aku cuma berani memasak resep yang itu itu aja dan nggak variatif. Kalau seperti itu terus aku juga nggak nyaman dengan memasak, awalnya aku sempat berpikir untuk mengesampingkan keperluan masak dan memilih untuk membeli makan setiap hari dari luar. Tapi, kalau diitung-itung anggaran makan jadi membengkak banget. Mungkin sesekali sih nggak apa, tapi kalau keseringan ya bisa kering kantong kita kan?


Akhirnya, dengan alasan itu aku menguatkan tekad untuk belajar memasak. Waktu aku sibuk belajar masak dengan memperhatikan Ibuku di dapur dan membaca resep masakan di Google. Ternyata motivasi memasakku tak kunjung bergelora. Akhirnya aku beranjak ke Youtube dan mencari inspirasi resep yang durasi videonya pendek-pendek (berharap cara memasaknya bakal berasa mudah, hahaha). Waktu itu aku langsung tertarik untuk menonton Resep Siomay simple dan mudah dari Yummy App. Siomay itu salah satu makanan favoritku yang aku pikir teknik memasaknya bakalan susah dan ribet banget, tapi Yummy App bisa menyajikan resep Siomay dalam vieo dengan durasi kurang dari 1 menit. Ajaib. Sejak saat itu, persepsiku tentang memasak tidak lagi suram dan menyeramkan, tapi justru asik dan penuh tantangan #GameChanger.

Resep Siomay ala Yummy App yang berhasil merubah persepsiku tentang memasak

Dari situ aku mulai semangat untuk buka-buka media sosial seperti Youtube, Instagram, dan Facebook Yummy App untuk mencari resep masakan lainnya. Kalau lagi nonton video Yummy App pasti bakal sadar kalau di awal video selalu ada pengenalan tentang Aplikasi Yummy App yang tersedia di smartphone. Waktu aku tahu itu, akhirnya aku coba untuk install di Google Play Store. Pas akhirnya aku install aplikasinya di smartphone aku, aku jadi seneng ternyata aplikasinya ringan banget. FYI nih, smartphone aku sering banget nggak compatible dengan beberapa aplikasi, tapi untungnya Yummy App bisa ngerakit aplikasi yang ringan dan mudah digunakan seperti ini.

Penilaian Yummy App

Keren ya Yummy app dapet penghargaan khusus dari Google Play di tahun 2019 sebagai Google Play Best of 2019 Everyday Essentials Category. Semakin Kagum.


Akhirnya setelah proses instalasi selesai, aku memulai perjalanan aku di aplikasi Yummy App. Proses mendaftar juga mudah dan gratis, aku bisa mendaftar dengan Email atau Facebook dan langkah daftarnya sederhana banget loh.

Infografi Registrasi Akun Yummy App
Infografi Registrasi Akun Yummy App

Setelah mendaftar aku langsung disuguhkan dengan beberapa gambar sajian-sajian menarik yang ada di beranda Yummy App. Jujur, ini brilliant banget menurutku! Tampilan beranda Yummy App benar-benar lengkap dan menunjang kreatifitasku untuk memasak. Grafis nya juga keren, kualitas gambar dan video bagus sekali. Yang bikin makin semangat, Yummy App itu selalu memanggil penggunanya dengan sebutan Chef. Wahh jadi berasa profesional banget ya 🙂 hihihi

Selamat Datang di Yummy App

Infugrafi Beranda Yummy App

Yang menjadi highlight buat aku dari Yummy App adalah fitur-fitur cekatan yang memberi kesempatan buat aku untuk menjadi pengguna yang serba bisa. Oh ya, pas aku cek website Yummy App ternyata disitu dijelasin kalau Yummy App itu termasuk multi-platform food-focused media digital yang merupakan bagian dari IDN Media. Pantesan aja fitur dan kelebihan dari Yummy App ini juara banget #GameChanger.

Ungkapan Yummy App sebagai multi-platform juga tergambar jelas dari fitur-fitur cekatannya. Tau nggak kenapa aku bilang fitur Yummy app cekatan? Karena melalui fitur itu, aku bisa jadi:

Infografi 3 Fitur Cekatan Yummy App
Infografi 3 Fitur Cekatan Yummy App
  1. Si suka masak, nah ada kalanya kita benar-benar tidak punya ide untuk memasak apa, tetapi sebenarnya kita lagi ingin masak. Fitur ini mempermudah kita unutk mendapat inspirasi resep sesuai dengan yang kita inginkan. Caranya, cukup dengan scroll beranda dan melihat kreativitas masakan chef andal di Yummy App. Bisa juga dengan mencari dikolom pencarian resep makanan yang diinginkan.
  2. Juri yang memberi penilaian untuk resep yang menjadi favoritku. Buat aku pribadi, fitur ini bisa membuka peluang juga kalau aku mau riset pasar secara gratis untuk tahu gambaran resep yang menjadi favorit banyak orang. Lumayan buat referensi kalau mau bikin bisnis makanan di masa pandemi ini kan. Caranya, cukup pencet pop-up ‘Jago Masak’ di aplikasi, disitu bakal muncul deh pilihan untuk memberikan vote pada pilihan resep yang tersedia. Kalau mau riset pasar bisa juga lihat di pilihan ‘Lihat Ranking’, disitu bakal keliatan resep mana yang jadi favorit pengguna lainnya.
  3. Inspirator yang membagikan resep makanan andalan ke pengguna lain. Fitur ini menyenangkan sekali karena terasa puas dan bangga kalau resep yang selama ini jadi andalan di rumah bisajadi inspirasi bermanfaat buat pengguna lain. Nantinya, kalau resep yang ditulis sudah lolos uji akurasi dari tim Yummy App, resep kita bisa di publish. Mantap banget kan? Oh ya caranya, cukup pilih menu ‘Tulis Resep’ dan mulai menulis resep dengan detail suaya nanti bisa lolos uji akurasi.

Oh ya di Aplikasi Yummy App juga ada resep-resep kreasi chef handal yang bisa diikuti.

Semenjak aku mengenal aplikasi Yummy App aku jadi lebih tenang ketika ingin memasak. Mengapa? Karena aplikasi Yummy App menyajikan rekomendasi masakan yang sangat lengkap. Banyak nilai tambah yang aku dapat dari aplikasi Yummy App khususnya dari segi memasak. Nggak perlu takut untuk mati gaya kalau mentok dan nggak punya inspirasi untuk memasak. Karena Yummy App lah solusinya. Menurut aku pribadi, ada 5 nilai plus dari Yummy App yang membuat aplikasi ini unggul.

Infografi Nilai Plus Yummy App
Infografi Nilai Plus Yummy App

Nilai plus Yummy App buatku pribadi ialah sebagai berikut:

Infografi Rresep Trending

Makanan yang trending itu membuat kita jadi lebih kreatif dalam memasak. Kreatifitas dan inspirasi memasak nggak berhenti hanya di resep yang kita tahu saja tapi inspirasi memasak kita berkembang samapai ke variasi resep baru yang nggak kalah lezat dan penuh tantangan. Ini juga #GameChanger yang aku maksud, aplikasi Yummy App itu satu-satunya aplikasi masakan dan aplikasi makanan yang lengkap dan kreatif.

Infografi Resep Murah Meriah

Siapa sih yang nggak suka memasak dengan biaya yang murah meriah apalagi di masa pandemi ini. Menurut aku hampir semua orang suka ya kalau memasak bisa jadi lebih murah. Nah, aplikasi Yummy App punya kelebihan ini dengan menyediakan referensi masakan yang murah meriah. Resep masakan ini nggak akan bikin kantong kita tercekik, dengan menggunakan bahan yang murah tapi tetap bisa menghasilkan makanan yang lezat itu luar biasa banget kan.

Infografi Resep Memasak dengan Bahan yang Ada ala Yummy App

Supaya efiesiensi di dapur bisa tercapai tentunya salah satu kuncinya adalah tidak adanya penumpukan persediaan di kulkas. Aku pribadi sangat nggak nyaman kalau buka kulkas isinya penuh dengan bahan-bahan masakan yang mengantre untuk dimasak. Padahal aku sendiri juga tidak tahu kapan bisa memasak semua bahan itu. Yummy App memfasilitasi aku untuk bisa menggunakan bahan-bahan di kulkas dengan efisien menggunakan menu “Masak” di bagian bawah beranda. Disitu aku bisa memilih bahan-bahan sesuai dengan persediaan yang ada di kulkas beserta rekomendasi resep yang bisa dikreasikan dari bahan tersebut. Jenius.

Infografi Event dan Promosi Yummy App

Yummy App selalu punya event yang membantu penggunanya untuk bisa mendapatkan banyak keuntungan dalam berselancar di aplikasi. Salah satu Event yang rutin diadakan adalah ‘Jago Masak’. ‘Jago Masak’ sendiri berhubungan dengan salah satu fitur cekatan yang aku sebutin sebelumnya. Di event tersebut, pengguna diminta untuk mengunggah resep sesuai dengan tema yang ditentukan. Dari resep-resep yang terunggah akan dilakukan voting resep.

Infografi Keuntungan dan Imbalan Yummy App

Nah, kalau sudah ikutin event tersebut terus apa imbalannya? Wow ada banyak imbalan yang menanti untuk di hak milik oleh pengguna-pengguna terpilih. Imbalan bisa berupa uang tunai hingga Rp 5.000.000,- dan sepeda motor. Keren banget ya, padahal hanya dengan masak resep masakan harian eh bisa berkesempatan dapat keuntungan. Itung-itung bisa jadi penghasilan tambahan.

Infografi Filter Harga

Kelebihan selanjutnya adalah Yummy App selalu menyediakan pilihan filter anggaran yang mau digunakan untuk memasak. Filternya sangat akurat dan dilengkapi dengan durasi memasak juga. Oh iya masih inget nggak dengan ceritaku sebelumnya, dimana aku sering kelabakan saat masak karena aku belum bisa estimasi waktu memasakku. Ketika aku buru-buru dan hasil masakan tidak optimal. Melalui filter anggaran dan durasi di aplikasi masak ini aku bisa lebih tenang kalau memasak karena sudah disesuaikan dengan durasinya.

Sekarang, nggak bakal ada yang namanya khawatir nggak bisa masak karena bahan di kulkas kurang dan abang sayur libur jualan. Nggak bakal ada yang namanya masakan belum matang karena buru-buru dan kekurangan waktu. Nggak bakal ada yang namanya mentok dan nggak punya inspirasi mau masak apa karena Yummy App selalu punya solusi untuk semua permasalahan dalam memasak.

Resep Penyelamat Rinduku ala Yummy App

Nah, Juni kemarin aku merasakan rindu yang teramat dalam alias rindu banget dengan makanan kampung halamanku di Gresik. Nama makanannya adalah Tahu Tek. Di tempat tinggal aku sekarang, Tahu Tek sangat sulit untuk ditemukan, kalau pun ada pasti rasanya berbeda karena tidak mirip penyajiannya dengan yang sering aku temukan di Gresik. Saat itu penelusuranku sampai pada Resep Tahu Telor Bumbu Kecap ala Yummy App. Pas aku nonton aku cocok banget sama resep makanan itu karena cara memasaknya dan bahan-bahannya mirip dengan yang dilakukan Mas penjual Tahu Tek di Gresik. Nggak cukup dari youtube aja aku perlu untuk nyari di aplikasi Yummy App siapa tahu ada resep Tahu Tek lengkap di apliksasi. Pas liat Yummy App eh kok ya ada resep Tahu Tek yang gampang dan cuma 5 langkah. Aku sampai hafal langkahnya cuma kocok-kocok, goreng-goreng, uleg-uleg, gunting-gunting, dan terakhir campur deh. Gerak cepatlah tanganku untuk langsung coba resep tersebut tanpa ragu. Dan hasilnya…

Tahu Tek ala Chef Yutta, inspired by Yummy App
Tahu Tek ala Chef Yutta, inspired by Yummy App

Yummy App penyelamatku banget rasa rindu ku dan orang rumah terobati dengan kreasi resep Tahu Tek Gresik ini.. Rasanya mirip dengan yang sering aku beli di Gresik…

Gimana, layak kan aku sebut Yummy App sebagai #GameChanger? Karena memang Yummy App ini aplikasi resep masakan yang kreatif dan inspiratif banget. Aplikasi yang bisa merubah persepsiku tentang memasak yang membosankan dan suram menjadi nyaman dan menyenangkan.

Oh iya, jangan lupa download aplikasinya di Google Play Store atau App Store ya pakai kode referalku: yutta-dana

supaya kita bisa sama-sama mengembangkan kemampuan memasak kita, dan yang penting masak bisa menjadi aktivitas yang nyaman dan menyenangkan. Selamat menjadi agen perubahan dengan aplikasi #GameChanger andalanku Yummy App.

Artikel ini diikutsertakan dalam Blog Competition Yummy App October 2020

Sumber-sumber:

  • Infografi: Yutta Dana Paramaresi
  • Video: Youtube Yummy App
  • Foto: Yutta Dana Paramaresi

Buat teman-teman yang membaca tulisanku ini aku harap kalian selalu bahagia dan tenang ya, selalu yakin kalau semua ketakutan ini akan segera berakhir dan hal baik menanti kita didepan sana. Amin. Tetap percaya dan berusaha, hugs from distance 🙂

Love,

Y

Lulus S1 Mau Kemana? #2

lanjutt….

di tulisan sebelumnya, aku sempet cerita kalau akhirnya aku milih lanjut sekolah lagi daripada nyari kerja.

sekarang aku bakal mulai cerita gimana sih sekolahku selanjutnya?

Sejujurnya kuliah S2 bukan sepenuhnya keinginanku, soalnya aku ragu-ragu sama tugas akhirnya dan yang jelas aku paling takut banget kalau orang lain sudah berekspektasi dengan pendidikan S2 ku. males banget kalau nanti ada yang komen

“kamu dah S2 kok gitu doang nggak ngerti?”

“udah S2 kan berarti udah pro dong?”

hmmm… to be honest tujuanku S2 tuh bukan buat keliatan pro tapi cuma buat ningkatin rasa prcaya diriku sendiri.

justru karena aku tau aku nggak pro sama majorku, makanya aku ambil S2.

justru karena aku tau aku belum suka sama majorku, makanya aku ambil S2.

jadi aku tuh sempet krisis percaya diri sewaktu abis lulus S1. aku merasa level pemahamanku tentang major yang aku ambil tuh masih belum apa-apa. aku merasa kurang dan kurang terus pengetahuanku.

bahkan aku sempet dititik ngerasa nggak worth banget dapat gelar. huft ditambah lagi aku enggak segera mendapat pekerjaan. bikin aku makin insecure lah karena ngerasa ilmuku masih kurang banget.

akhirnya ambil profesi dan S2.

proses profesi ya lancar-lacar aja karena mostly happy punya temen baru yang asik dan doyan main, jadi profesiku berasa selowwwww dan meaningful. Oh ya, justru aku sempet mikir gini loh.. sorry ya klo ada yang ga setuju sama pemikiranku.

aku merasa pendidikan profesi di majorku tuh bukan kewajiban gitu, jadi nggak semua lulusan majorku harus ambil profesi. aku ngerasa temen-temenku yang kemarin ambil profesi itu juga punya semangat yang sama dengan aku.. sama-sama pengen nambah ilmu. I mean beda dengan S2 yang kita semua tau lah ya kalau ada orang lain yang ambil S2 pasti dianggap keren dan S2 sering kali dijadikan ukuran kesuksesan pendidikan seseorang. Tapi kalau profesi tuh sebuah pilihan bagi orang-orang tertentu. bahkan kemarin pas ambil profesi aku banyak nemuin orang yang juga daftar profesi untuk mengisi waktu karena belum dapet kerja gitu.

that’s way most of them lebih punya pandangan yang sama tentang kuliah haha.. yang artinya banyak main-mainnya gitu.

Beda pas ambil S2, kesannya serius banget. moodku sering naik turun waktu S2 karena banyak banget perbedaan dari profesi. pas profesi kayak seru dan santai banget eh pas S2 langsung serius banget. hahaha

kalau aku boleh jujur S2 tuh mirip banget kayak S1. Cuma tuntutannya aja yang lebih tinggi. S2 nambah pengalaman di segi kedewasaan banget, aku pribadi ngerasa banget ditempa mentalnya. tuntutan dosen ke anak S2 sangat tinggi, beliau-beliau mengukur kita semua adalah anak-anak yang senang belajar dan memiliki IQ gila gilaan. kalau nggak tau apa-apa kayak aku, pasti bakal down parah, i mean mending keliatan ngerti aja daripada nunjukin kamu bingung. S2 maksa aku buat speak up meski bener atau salah, buat aku meet the deadline dan obey the timeline. S2 buat aku let go keinginan pribadiku demi kuliah. S2 buat aku bisa lebih tau caranya menghormati dan menghargai orang lain adalah kunci dari kesejahteraan kehidupan sekolahku. dannnnn banyak lagi.

di awal semester ternyata dosenku sangat sibuk, kuliah itu bisa lebih dari jadwal normal karena beliau suka untuk ngasih kuliah tambahan dan pengayangan buat mahasiswanya.

di semester dua waktu kuliah padat dan terasa pendek, setiap kuliah punya tugas beratnya masing-masing dan itu untuk setiap pertemuan, waktu kita bener-bener dituntut untuk fokus di kuliah. bagi orang yang pengen fokus sih pasti hal itu biasa aja, tapi sayangnya aku orgnya ga fokus jadilah keteteran. Di semester dua, aku paham bangt namanya berseteru sama temen kelompok karena aku terlalu santuy, paham banget rasanya presentasi tapi ga punya ppt, paham banget rasanya lupa jadwal presentasi, paham banget rasanya ijin pas presentasi, paham banget rasanya ga betah di kampus. dan masih banyak lagi

di semester tiga, adalah semester aku mulai tesis, karena kesantuy an ku akhirnya aku kena batunya, dapet dosen pembimbing yang diluar bayanganku. akhirnya tesis stuck, dosen super sibuk, dan berujung aku ganti dosen di bulan terakhir semester tiga. no progress at all… sabar…sabar…. oh ya, awalnya aku nggak berniat ganti dosen sih tapi aku masih mau berusaha sama dosen ku itu, akhirnya aku nekat ambil magang di suatu perusahaan buat nambah pengetahuan tentang bidang yang dosen pembimbingku suka.. eh pas udah keterima magang,, malah aku ganti dosen hahahahahahahahaha ada ada aja kan cara Tuhan buat aku belajar kerja…

pas semester empat dimulai, aku nyambi magang. jujur aku malah menikmati waktu magangku ketimbang tesisku. hahaha padahal aku udah dapet dosen pembimbing baru. disitu aku dilema banget. aku ngerasa aku menyia-nyiakan kesempatanku untuk nyelesaiin tesis. akhirnya aku membangun tekat untuk terus fokus sama keduanya, mau ga mau. magang jalan tapi otak gaboleh lari dari tesis. akhirnya aku sering ijin magang buat ke objek penelitian, atau cepet-cepet selesain jam istirahat buat ngerjain tesis, dan lanjut ke perpus setelah pulang magang. nah pas lagi on fire nya aku akhirnya memutuskan untuk resign dari magangku. aku ngerasa banyak melewatkan waktu diskusi sama temen-temen seangkatan pas mereka di kampus siang hari. jadilah aku resign dan lanjutin nego sama objek penelitian. pas akhirnya aku deal sama objek penelitian dan aku sudah resign aku merasa lega karena akhirnya proses tesisku balik normal lagi.. ehh ternyata

siapa sangka,, corona datang di awal tahun 2020. hahaha

ya,, corona juga menjadi salah satu penyebab aku down soal tesis. aku ngerasa ternyata proses tesisku belum normal juga.. corona membuat aku gabisa ke kampus untuk nyari materi tesis, gabisa bebas nyari tempat teduh buat nesis, intinya corona membatasi gerak bebasku dalam mengerjakan tesis. yang paling sedih perasaan dan mood ku ke tesis bener-bener udah anjlok. pas udah mau observasi dan interview ke objek penelitian aku malah harus di rumah aja, objek juga wfh, kota juga lockdown. prosesnya lambat tapi aku percaya tesis ku selalu ada di tangan Tuhan.

meski aku harus sabar baru bisa wawancara setiap bulan sekali, nggak papa yang penting ada progres dan aku nggak lupa. meski sampe sekarang aku belum lulus juga tapi aku pasti bisa menyelesaikan tesisku.

Tuhan pasti terus tuntun langkahku, karena aku bener-bener udah menyerahkan semuanya ketangan Tuhan. let God do the rest. Kayak gambar ini, aku yakin proses S2 ku kayak pintu itu, di dalam tempat aku berdiri boleh gelap tapi aku percaya ada jalan terang diluar sana dan aku pasti kesana.

okay… segini dulu… nanti aku lanjutin lagi buat chapter seru lainnya. tentang gimana profesiku berjalan, dan gimana kehidupan organisasiku di S2.

thankyou yang sudah baca… goodnight…

Love,

Y

#Quarantine Wellness – Snacking

Kalau bicara soal masa karantina, tentunya banyak banget hal baru yang kita lakuin sekarang. Termasuk yang terjadi di aku juga sama. Banyak hal yang dulu bukan jadi prioritasku sekarang di masa karantina itu jadi prioritasku. Termasuk salah satunya adalah masak. Dulu kalau aku masak itu pasti cuma buat aku nikmatin sendiri. Sekarang aku ikut masak buat orang serumah. Dapur nggak pernah sepi, TV nggak pernah mati karena kita semua di rumah, menyalurkan energi yang sama.

Dua resep sudah pernah aku share di IG @yutta___

Hari ini aku mau share snack fav aku yaitu Garlic Bread yang simpel banget soalnya pakai roti tawar dan bahan pasti ada di rumah. Oh ya untuk resep ku ini karena aku panasin di teflon tanpa minyak ya.. Bukan yang di oven.

Bahan:

  • 2 lembar roti tawar
  • 2 sdm margarin
  • 1 siung bawang putih
  • 1 helai seledri
  • secukupnya garam
  • secukupnya merica

Cara membuat:

  1. Potong 2 lembar roti tawar menjadi 8 bagian, sisihkan.
  2. Untuk bahan olesannya, pertama aku parut bawang putih, setelah itu dicampur dengan margarin aduk rata bersama garam dan merica. Cicip sedikit sudah dapat rasa yang diharapkan atau belum.
  3. Setelah itu masukan seledri yang sudah di-chop kecil-kecil.
  4. Campur semua bahan olesan sampai membentuk tekstur seperti krim.
  5. Oles krim ke masing-masing sisi roti tawar.
  6. Lalu panaskan di teflon dengan api kecil.

WhatsApp Image 2020-07-29 at 12.34.04 PM

 

Nah di resep itu, ada beberapa orang yang tidak terlalu suka dengan rasa bawang putih yang terlalu pengar. Jadi buat yang nggak suka aku saranin untuk sangrai bawang putih parutnya dulu sampai ada aroma enak..

Oh ya, misalnya kalian punya oven, tentunya bisa coba bikin resep ini juga, tapi margarinnya dicairin dulu ya.. jadi nanti teksturnya seperti saus bukan krim.

Selamat mencoba..

Love,

Y